Sabtu, 02 Juni 2012

makalah bahasa indonesia masalah kalimat


TUGAS TERSTRUKTUR

Bahasa Indonesia
DOSEN PENGASUH

Tarwilah


TEMA :
KALIMAT
(Unsur Kalimat, Pola Kalimat Dasar)




Amelia Dwi Astuti
:
1101250690
Hadi Fauzi
:
1101250754
Maslinawati
:
110125





INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN MATEMATIKA
BANJARMASIN
2011










KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah kami haturkan kehadirat Allah SWT karena berkat karunia dan rahmat-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat waktu. Shalawat dan salam kami haturkan keharibaan junjungan Nabi besar Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman.
Ucapan terima kasih kami berikan kepada Ibu Tarwilah selaku Pengampu Mata Kuliah Bahasa Indonesia. Ucapan terima kasih juga kami ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari makalah ini jauh dari kata sempurna, maka kami sangat mengharapkan masukan, kritikan yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

                                                                                     Banjarmasin, April 2011

Penulis





DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL......................................................................................................... i
KATA PENGANTAR....................................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.............................................................................................................. 1
B. Rumusan masalah......................................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah............................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Kalimat........................................................................................................ 2
B. Kelengkapan Unsur Kalimat.......................................................................................... 3
C. Pola Dasar Kalimat........................................................................................................ 6

BAB III PENUTUP
Simpulan...........................................................................................................................  8
DAFTAR PUSTAKA








BAB II
KALIMAT
A.    Pengertian Kalimat
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh. Dalam wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun, keras lembut, disela jeda, dan diakhiri dengan intonasi akhir. Dalam wujud tulisan berhuruf  latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), dan tanda seru (!). kalimat juga diartikan sebagai rangkaian kata yang dapat mengungkapkan gagasan, perasaan, atau pikiran yang relatif lengkap.
Sebagai gambaran, perhatikan contoh berikut.
(1)   Gedung tinggi itu
(2)   Rumah bagus yang bercat putih itu
Bandingkan kedua contoh tersebut dengan contoh berikut.
(3)   Gedung itu tinggi
(4)   Rumah bagus itu bercat putih.
Rangkaian kata (3) dan (4) dapat disebut kalimat, sedangkan (1) dan (2) belum dapat disebut kalimat. Hal ini disebabkan karena rangkaian kata (3) dan (4) sudah dapat mengungkapkan gagasan atau informasi yang relatif lengkap, sedangkan (1) dan (2) belum. Status sebuah kalimat selain dapat diketahui dari segi kelengkapan unsurnya, yaitu ada subjek dan ada predikat, dari segi strukturnya juga dapat diketahui dari kemungkinan dapat dipertukarkannya posisi unsur yang berupa subjek dan predikat. Apabila usur itu dapat dipertukarkan, rangkaian kata yang bersangkutan berarti dapat disebut kalimat. Unsur-unsur pada contoh (3) dan (4) ternyata dapat dipertukarkan, sehingga contoh itu memang memenuhi syarat sebagai kalimat. Hal tersebut dapat kita lihat pada contoh berikut.
            (3a)  Tinggi  / / gedung itu.
                       P                S
            (3b)  Bercat putih / / rumah bagus itu.
                         P                          S
        Dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu :
a.       Kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja
b.      Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja
Contoh :
“Dalam ruang itu memerlukan tiga buah kursi”.
      Untuk menentukan apakah kalimat itu benar atau tidak, maka yang mula-mula dicari adalah predikatnya yaitu kata memerlukan.
      Sebuah kata kerja dalam sebuah kalimat, tidak dapat menduduki status predikat apabila di depan kata kerja itu terdapat partikel yang, untuk, dan sebangsa dengan itu. Seperti pernyataan di bawah ini.
1.      Singa yang menerkam kambing itu
2.      Mahasiswa yang meninggalkan ruang kuliah
3.      Pertemuan untuk memilih ketua baru
Seharusnya, kata menerkam, meninggalkan, dan memilih yang berfungsi sebagai predikat 1, 2, dan 3 tidak didahului kata yang atau untuk. Ciri-ciri kalimat adalah sebagai berikut :
1.      Dari segi maknanya, sebuah kalimat harus mengandung informasi yang relatif lengkap, sedangkan dari segi bentuknya, kalimat sekurang-kurangnya harus mengandung unsur  subjek dan predikat
2.      Unsur-unsur yang berupa subjek dan predikat, posisinya dapat dipertukarkan sehingga menjadi predikat subjek
3.      Subjek atau pokok kalimat dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan apa atau siapa, sedangkan predikat atau setaranya dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan mengapa atau bagaimana.
B.     Kelengkapan Unsur Kalimat
Setiap kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur kalimat akan mengandung kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur kalimat antara lain SPOK (Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan).
Sebuah kalimat yang tepat (dalam arti benar), terutama dalam ragam resmi, harus mengandung kelengkapan dari segi unsur-unsurnya, tuntas atau utuh dari segi makna atau informasinya, dan berterima dari segi nilai sosial budaya masyarakat pemakainya.
Dari segi unsur-unsurnya, sebuah kalimat dikatakan lengkap jika sekurang-kurangnya mengandung dua unsur, yaitu unsur yang disebut subjek dan unsur yang disebut predikat. Jika predikat kalimatnya berupa kata kerja transitif atau kata kerja yang menuntut kehadiran unsur pelengkap, unsur yang berupa objek juga harus ada, yaitu untuk melengkapinya. Jika diperlukan, unsur lain yang berupa keterangan juga dapat disertakan di dalam kalimat. Contoh :
1.      Pembangunan itu untuk menyejahterakan masyarakat.
2.      Hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pekerjaan ini yaitu kurangnya tenaga professional.
3.      Dalam pertemuan itu dihadiri oleh para guru se-Kecamatan Cengkareng.
Pada kalimat (1), pengembangan itu untuk menyejahterakan masyarakat, unsur pembangunan itu merupakan subjek kalimat, sedangkan unsur selebihnya merupakan keterangan atau lebih tepatnya pelengkap. Dengan demikian, kalimat (1) berpola subjek-pelengkap. Kalimat (2), Hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pekerjaan ini yaitu kurangnya tenaga professional, dikatakan tidak lengkap karena unsur Hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pekerjaan ini merupakan subjek, dan unsur yaitu kurangnya tenaga professional merupakan keterangan. Jadi, kalimat (2) itu berpola subjek-keterangan. Kalimat (3), yaitu Dalam pertemuan itu dihadiri oleh para guru se-Kecamatan Cengkareng, secara sepintas kalimat tersebut tidak terdapat kesalahan, tetapi jika diperhatikan secara cermat, akan tampak sebenarnya kalimat tersebut tidak mempunyai subjek. Apa yang dihadiri oleh para guru? Jawabannya tidak ditemukan pada kalimat tersebut. Apabila jawaban yang dimaksud adalah pertemuan itu, berarti penggunaan kata dalam pada kalimat tersebut tidak tepat karena kehadiran kata itu menyebabkan unsur yang mengikutinya tidak menjadi subjek, tetapi menjadi keterangan. Oleh karena itu, agar kalimat tersebut menjadi tepat, kata dalam yang mengawalinya harus dihilangkan.
-          Beberapa catatan tentang unsur kalimat
Kalimat apabila dari segi fungsinya, terdiri atas unsur-unsur yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Secara singkat, ciri-ciri unsur kalimat itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

a.       subjek
unsur kalimat yang disebut subjek dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan siapa atau apa. Dalam kalimat gadis itu cantik, misalnya, jawaban atas pertanyaan siapa yang cantik adalah gadis itu. Dengan demikian, unsur gadis itu dalam kalimat tersebut merupakan subjek.
b.      Predikat
Unsur predikat dalam kalimat dapat diketahui dari jawaban atas pertanyaan bagaimana atau mengapa. Dalam kalimat yang disebutkan di atas, misalnya, jawaban atas pertanyaan bagaimana gadis itu adalah cantik. Dengan demikian, cantik merupakan unsur yang disebut predikat.
c.       Objek
Objek merupakan unsur kalimat yang kehadirannya bersifat wajib (tidak dapat dihilangkan) dan dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Unsur yang disebut objek ini hanya terdapat dalam kalimat yang predikatnya berupa kata kerja transitif. Misalnya :
(a)    Tyson memukul Holifield.
                               O
(b)   Holifield dipukul Tyson.
      S
Dari contoh tersebut dapat diketahui bahwa Holifield pada kalimat (a) merupakan objek, dan sebagai objek unsur itu dapat menjadi subjek pada kalimat pasif (b). baik dalam kalimat (a) maupun (b), unsur Holifield tidak dapa dihilangkan. Sementara itu, memukul merupakan kata kerja transitif yang berfungsi sebagai predikat. Kalimat yang predikatnya berupa kata kerja transitif seperti itulah yang dapat dipasifkan, dan dalam kalimat semacam itu pula unsur objek berada.
d.      Pelengkap
Seperti halnya objek, unsur kalimat yang disebut pelengkap kehadirannya juga bersifat wajib (tidak dapat dihilangkan). Perbedaannya adalah bahwa objek dapat menduduki fungsi subjek dalam kalimat pasif, sedangkan pelengkap tidak dapat menduduki subjek karena kalimatnya tidak dapat dipasifkan. Misalnya:
     
Indonesia berpenduduk 180 juta jiwa.
                                         S                  P                 Pel.
e.       Keterangan
Keterangan merupakan unsur kalimat yang kehadirannya tidak wajib sehingga unsur itu dapat dihilangkan tanpa mempengaruhi unsur kalimatnya. Cirri unsur keterangan yang lain adalah bahwa unsur itu posisinya dapat dipindah-pindah di tengah, di akhir, atau di depan. Misalnya, unsur pada saat itu di bawah ini.
a.       Rina pada saat itu sedang belajar.
b.      Pada saat itu Rina sedang belajar.
c.       Rina sedang belajar pada saat itu.
Dalam kalimat tersebut, pada saat itu merupakan keterangan.
C.     Pola Kalimat Dasar
Pola dasar kalimat yang dimaksud dalam hal ini adalah model atau bentuk kalimat yang mendasari bentukan kalimat lain yang lebih luas. Berdasarkan pengamatan penulis, bahasa Indonesia paling tidak mempunyai empat pola dasar kalimat. Keempat pola dasar kalimat itu adalah sebagai berikut.
1.      Pola dasar SP (Subjek-Predikat)
2.      Pola dasar SPPel. (Subjek-Predikat-Pelengkap)
3.      Pola dasar SPO (Subjek-Predikat-Objek)
4.      Pola dasar SPOPel. (Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap)
            Ada empat pola dasar kalimat sebagai berikut :
a.       Pola dasar SP ( Subjek-predikat)
Pola dasar SP dapat diturunkan menjadi beberapa kalimat luas dengan menambahkan keterangan-keterangan tertentu dengan menggabungkan dua pola atau lebih, dan dengan mengubah strukturnya, atau dengan mempertukarkan letak posisi unsur-unsurnya. Misalnya :
·         Pekerjaan ini melelahkan
                    S                      P


b.      Pola Dasar SPPel. ( Subjek-predikat-pelengkap )
Beberapa contoh pola dasar ini dapat diperhatikan pada kalimat berikut.
·         Tetangga saya penjual barang-barang bekas.
          S                P                  Pel.
·         Pertandingan itu berlangsung cukup meriah.
           S                       P                Pel.
            Seperti halnya pola dasar SP, pola dasar SPPel. Ini pun dapat diperluas dengan (a) menambahkan keterangan tertentu, (b) mempertukarkan posisi unsur-unsurnya, (c) menggabungkan pola dasarnya.
c.       Pola Dasar SPO (Subjek-predikat-objek­)
Pola dasar ini pun perluasannya dapat bervariasi. Apalagi, mengingat bahwa pola dasar ini berpredikat kata kerja transitif, variasi perluasannya pun dapat berbentuk pasif.
Beberapa contoh kalimat  yang berpola SPO dapat diperhatikan sebagai berikut.
·         Pimpinan Pusat Bahasa menugasi saya.
                  S                        P           O
·         Amerika menyerang Irak.
       S            P             O
d.      Pola Dasar SPOPel. (Subjek-predikat-objek-pelengkap)
Seperti halnya pola dasar SPO, pola dasar ini pun predikat kalimatnya berupa kata kerja tansitif. Oleh karena itu, perlasannya pun dapat bervariasi dengan bentuk pasif. Beberapa contoh pola dasar ini dapat dilihat pada kalimat berikut.
·         Amerika mengirimi Indonesia bantuan tenaga ahli.
      S             P                O                  Pel.
·         Ibu membelikan adik baju baru.
 S             P            O      Pel.  



           

BAB III
SIMPULAN
·         Kalimat adalah satuan bahasa terkecil dalam wujud lisan atau tulisan yang mengungkapkan pikiran yang utuh.
·          Dilihat dari hal predikat, kalimat-kalimat dalam bahasa Indonesia ada dua macam, yaitu :
              a.Kalimat-kalimat yang berpredikat kata kerja
               b.Kalimat-kalimat yang berpredikat bukan kata kerja
·         Setiap kalimat memiliki unsur penyusun kalimat. Gabungan dari unsur-unsur kalimat akan mengandung kalimat yang mengandung arti. Unsur-unsur kalimat antara lain SPOK (Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan).
·         Kalimat apabila dari segi fungsinya, terdiri atas unsur-unsur yang disebut subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan
·         Pola dasar kalimat yang dimaksud dalam hal ini adalah model atau bentuk kalimat yang mendasari bentukan kalimat lain yang lebih luas
·         Berdasarkan pengamatan penulis, bahasa Indonesia paling tidak mempunyai empat pola dasar kalimat. Keempat pola dasar kalimat itu adalah sebagai berikut.
1.      Pola dasar SP (Subjek-Predikat)
2.      Pola dasar SPPel. (Subjek-Predikat-Pelengkap)
3.      Pola dasar SPO (Subjek-Predikat-Objek)
4.      Pola dasar SPOPel. (Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap)





DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zainal & S.Amran Tasai, Cermat berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademika Pressindo, 2006.
Mustakim, Membina Kemampuan Berbahasa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka, 1992.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar