Sabtu, 02 Juni 2012

makalah pendidikan akidah hubungan akal ,wahyu dan akidah


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang penuh dengan kekurangan. Dalam semua sisi kehidupan, kekurangan yang melekat pada manusia menyebabkan kemampuan yang dimiliki menjadi sangat terbatas. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan peran dan fungsi akal secara optimal, sehingga akal dijadikan sebagai standar seseorang diberikan beban taklif atau sebuah hukum. Jika seseorang kehilangan akal maka hukum-pun tidak berlaku baginya. Saat itu dia dianggap sebagai orang yang tidak terkena beban apapun.
Islam bahkan menjadikan akal sebagai salah satu diantara lima hal primer yang diperintahkan oleh syariah untuk dijaga dan dipelihara, dimana kemaslahatan dunia dan akhirat amat disandarkan pada terjaga dan terpeliharanya kelima unsur tersebut, yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Agama mengajarkan  dua jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Pertama, melalui jalan wahyu, yakni melalui komunikasi dari Tuhan kepada/manusia, dan kedua dengan jalan akal, yakni memakai kesan-kesan yang diperoleh panca indera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan. Pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu diyakini sebagai pengetahuan yang absolut, sementara pengetahuan yang diperoleh melalui  akal diyakini sebagai pengetahuan yang bersifat relatif, yang memerlukan pengujian terus menerus, mungkin benar dan mungkin salah (Harun Nasution, 1986: 1).
Di  zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, timbul pertanyaan, pengetahuan mana yang lebih dipercaya, pengetahuan yang diperoleh melalui akal, pengetahuan melalui wahyu, atau pengetahuan yang diperoleh melalui kedua-duanya.  Karena itu,  masalah hubungan  akal dan wahyu ini merupakan masalah yang paling masyhur dan paling mendalam dibicarakan dalam sejarah pemikiran manusia, telah lebih dua ribu tahun (Harun Nasution, 1986: 1).

Akan tetapi, meskipun demikian akal bukanlah penentu segalanya. Ia tetap memiliki kemampuan dan kapasitas yang terbatas. Oleh karena itulah, Allah SWT menurunkan wahyu-Nya untuk membimbing manusia agar tidak tersesat. Di dalam keterbatasannya-lah akal manusia menjadi mulia. Sebaliknya, ketika ia melampaui batasnya dan menolak mengikuti bimbingan wahyu maka ia akan tersesat.
Makalah ini akan membicarakan tentang (1) pengertian wahyu, (2) pengertian akal, (3)  Fungsi Akal Dan Wahyu Dalam memahami akidah.
B.     Rumusan masalah
1.         Apakah pengertian wahyu, akal, dan akidah?
2.         Bagimana fungsi akal dan wahyu dalam memahami akidah?

C.     Tujuan
            Tujuan disusunnya makalah ini untuk menjelaskan bahwa akal dan wahyu dalam kehidupan islam sangat penting akal dan wahyu yang  digunakan  maqasid as-syari’ah  atau maslahah yang menekankan terjaminnya kebutuhan  hidup manusia, dua di antaranya adalah mewujudkan terjaganya  al-‘aql (intellect), dan keyakinan (ad-din) (Fahim Khan, 1992: 73-74).  Dalam hal ini  wahyu  merupakan sumber pengetahuan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT.













BAB II
PEMBAHASAN
Fungsi Wahyu dan Akal dalam Memahami Akidah
1.       Pengertian Wahyu, Akal dan Akidah
a.       Wahyu
            Wahyu berasal dari bahasa arab Al-Wahy, artinya suara, api dan kecepatan, bisikan, isyarat dan tulisan. Juga berarti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Pemberitahuan yang dimaksud datang dari luar diri manusia, yaitu Tuhan. Dengan demikian wahyu diartikan penyampaian sabda Tuhan kepada pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia agar menjadi pegangan  hidup.
            Wahyu turun kepada nabi-nabi melalui tiga cara, yaitu dimasukkan langsung kedalam hati dalam bentuk ilham, dari belakang tabir, dan melalui utusan dalam bentuk malaikat. Hal ini diungkapkan dalam firman Allah QS. Asyura, 42: 51
$tBur tb%x. AŽ|³u;Ï9 br& çmyJÏk=s3ムª!$# žwÎ) $·ômur ÷rr& `ÏB Ç!#uur A>$pgÉo ÷rr& Ÿ@Åöãƒ Zwqßu zÓÇrqãsù ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ $tB âä!$t±o 4 ¼çm¯RÎ) ;Í?tã ÒOŠÅ6ym ÇÎÊÈ
Artinya : tidak terjadi bahwa Allah berbicara kepada manusia kecuali dengan wahyu, atau dari belakang tabir, atau dengan mengirimkan seorang utusan, untuk mewahyukan apa yang Ia kehendaki dengan seizin-Nya. Sungguh Ia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.”[1]
  Sering terjadi wahyu itu berupa ilham atau penyampaian dalam keadaan sadar dengan perantaran malaikat, yang menyampaikan makna ke dalam hati Nabi dan mengatakan kebenaran. Sebagaimana Al-Qur’an, sebagai wahyu ia turun dengan lafaz dan maknanya sekaligus, hingga tahulah Rasulullah saw apa yang tidak diketahuinya selama ini. dan peranan Jibril dalam hal ini hanyalah semata menyampaikan dari yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat. Pada QS. Asy Syu’ara ayat 193-195
tAttR ÏmÎ/ ßyr9$# ßûüÏBF{$# .   4n?tã y7Î7ù=s% tbqä3tGÏ9 z`ÏB tûïÍÉZßJø9$# .   Ab$|¡Î=Î/ <cÎ1ttã &ûüÎ7B .

Artinya :   “dibawa turun oleh Roh yang dipercaya Jibril ada dihatimu supaya kamu menyampaikan peringatan, dengan bahasa yang jelas terang” [2]
            Dan adakalanya wahyu itu turun dengan jalan berfirmannya allah terhadap hambanya secara langsung tanpa perantara sebagaimana dialami oleh musa :
!$£Jn=sù $yg8s?r& šÏŠqçR `ÏB ÃÏÜ»x© ÏŠ#uqø9$# Ç`yJ÷ƒF{$# Îû Ïpyèø)ç7ø9$# ÏpŸ2t»t7ßJø9$# z`ÏB Íotyf¤±9$# br& #ÓyqßJ»tƒ þÎoTÎ) $tRr& ª!$# Uu šúüÏJn=»yèø9$# .   ÷br&ur È,ø9r& x8$|Átã (
artinya : setelah ia datang kesana, terdengarlah suara memanggilnya dari pinggir kanan lembah, yakni disuatu tempat yang diberi berkat berupa kayu-kayuan berbunyi : “ hai musa, sesungguhnya aku ini allah, tuhan rabbul alamin.”dan “ jatuhkanlah tongkatmu.” (al-qashash, 28 : 30-31)
b.      Akal
            Menurut pemahaman filosof islam, akal mengandung arti daya untuk memperoleh pengetahuan,membuat orang dapat membedakan dirinya dengan benda lain dann antara benda-benda satu dari yang lain. Di samping memiliki kemampuan yang bersifat konkrit, akal dapat mengabstrakkan benda-benda yng ditangkap oleh panca indraatau benda benda konkrit bahkan membedakan antara kebaikan dan keburukan atau mempunyai fungsi moral.
            Akal dalam pengertian islam adalah daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia; daya, yang memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Pengertian inilah yang di kontraskan dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia.
            Akal menjadi faktor utama yang menempatkan manusia pada kedudukan yang lebih mulia di bandingkan makhluk allah lainnya. Dengan akal manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga terwujud kebudayaan.
            Alquran menempatkan akal pada posisi penting dengan banyaknya ayat  yang mendorong manusia menggunakan akalnya dalam berbagai ungkapan antara lain dengan menggunakan nadzara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tadzakkara, fahima dan sebagainya. Ungkapan ungkapan tersebut mengandung isyarat penempatan akal sebgai faktor yang penting dalam kehidupan seorang muslim.[3]

c.       Akidah
            Kata "‘aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth(ikatan), al-Ibraam (pengesahan), al-ihkam(penguatan), at-tawatstsuq(menjadi kokoh, kuat), asy-syaddu biquwwah(pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk(pengokohan) dan al-itsbaatu(penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin(keyakinan) dan al-jazmu(penetapan).
            Menurut bahasa akidah diartikan dengan tali pengikat/pembuhul sesuatu dengan yang lain, sehingga bersatu menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Bisa juga Aqidah berarti ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan.  Dalam konteks islam,akidah berarti tali pengikat batin manusia dengan yang diyakininya sebagai Tuhan yang Esa yang patut disembah dan Pencipta serta Pengatur alam jagat ini. Selain itu akidah juga diartikan sebagai komitmen spiritual terhadap allah dengan segala kemahaannya.
            Sedangkan pengertian Aqidah Secara Istilah yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Ikatan atau komitmen dengan allah itu terikat kuat, tangguhdan rapat, tidak longgar dan renggang, sehingga kekuatannya diyakini dan tidak diragukan. Dengan demikian ikatan itu tidak mudah tanggal betapapun kuatnya angin tipu daya dan rayuan penganut kesesatan (setan).komitmen ketuhanan kepada allah ini pada dasarnya terjadi karena adanya keyakinan atau kepercayaan kepada sebagai tuhan yang disembah dan Pencipta alam ini.[4]
d.      Fungsi wahyu dan akal dalam memahami akidah
            Dalam ajaran Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, tidak hanya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan, melainkan juga dalam perkembangan ajaran agama Islam itu sendiri. Agama islam mengajak seluruh umat manusia supaya berpikir dan menggunakan akalnya dan bahkan demikian hebatnya anjuran kearah itu, tetapi yang dikehendaki itu bukanlah pemikiran secara tidak terkendali lagi kebebasannya. Maka yang dianjurkan oleh islam untuk difikirkan itu ialah dalam hal ciptaan Allah Ta’ala yakni apa-apa yang ada dilangit dan dibumi, dalam dirinya sendiri, dalam masyarakat, dan lain-lain. Tidak sebuah pemikiranpun yang dilarangNya melainkan memikirkan dzat allah subhanallahu wata’ala. Sebab yang satu ini pasti diluar kemampuan akal pikiran manusia.[5]
            Dalam pemikiran Islam, baik di bidang Filsafat maupun Ilmu Kalam (Teologi), dan Fiqh, akal tidak pernah membatalkan wahyu; bahkan akal wajib tunduk kepada teks wahyu (nash). Teks wahyu tetap dianggap mutlak benar. Akal dipakai hanya untuk memahami teks wahyu dan tidak menetang wahyu sama sekali. Akal hanya memberi interpretasi terhadap teks wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kesanggupan pemberi interpretasi.
            Sepanjang sejarah pemikiran Islam, yang dipertentangkan sebenarnya bukanlah akal dan wahyu, baik oleh kaum Mu’tazilah maupun oleh para Filosof Islam. Yang dipertentangkan adalah penafsiran (interpretasi) tertentu dari teks wahyu dengan penafsiran lain dari teks wahyu juga, yang dianggap berlawanan secara tekstual (ta’arudh). Jadi, yang bertentangan sebenarnya adalah pendapat akal ulama tertentu dengan pendapat akal ulama lain tentang penafsiran atau istinbath hukum dari teks wahyu, yang kemudian melahirkan pemikiran, pendapat, atau ijtihad yang berbeda-beda mengenai suatu hukum atau masalah.
            Perlu ditegaskan bahwa pemakaian akal yang diperintahkan al-Qur’an seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kauniyah mendorong manusia untuk meneliti alam sekitarnya dan mengembangkan ilmu pengatahuan dan teknologi. Karena itu, dengan pemakaian akal secara maksimal itulah maka manusia dapat menjalankan fungsi dan perannya sebagai khalifah dimuka bumi.

           
            Secara singkat dapat dikatakan bahwa hubungan akal dan wahyu adalah bahwa akal diberikan oleh Allah kepada manusia untuk memahami wahyu. Wahyu adalah kebenaran mutlak sedangkan kebenaran akal adalah relatif (nisbi). Oleh sebab itu akal harus tunduk kepada wahyu dan wahyu merupakan kebenaran yang wajib diikuti serta diamalkan sesuai dengan tingkat pemahaman yang mampu ditangkap oleh akal manusia. Di samping itu, keberadaan akal sangat dihargai dalam Islam, sehingga Rasulullah menyatakan: “Barangsiapa menggunakan akalnya secara maksimal tau berijtihad untuk mengistinbathkan suatu hukum, dan ijtihadnya itu benar maka ia diberi dua pahala dan jika ijitihadnya itu salah, maka diberi satu pahala.” Pernyataan Rasulullah ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya akal dalam memahami wahyu dan hasil pemahaman wahyu oleh akal mendapat penghargaan dari Allah meskipun salah. Bagaimana pun juga akal merupakan alat untuk memahami dan menganalisis teks-teks wahyu untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan umat Islam.
            Al-qur’an Al-karim sebagai wahyu penuh dengan beratus-ratus ayat yang mengajak kita semua untuk merenungkan keadaan alam semesta yang luas dihadapan kita, beserta seisi cakrawalanya yang tak terbatas oleh sesuatu apapun.
Allah berfirman :
šÏ9ºxx. ßûÎiüt7ムª!$# ãNä3s9 ÏM»tƒFy$# öNà6¯=yès9 tbr㍩3xÿtFs? .  Îû $u÷R9$# ÍotÅzFy$#ur .
Artinya :” ….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, tentang dunia dan akhirat.”( Q.S Al-Baqarah : 219-220).
            Al-qur’an (wahyu) telah mendorong akal fikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang alam yang menjelaskan seluruh isi dalam dunia semesta ini , dengan menggunakan pemikiran itu nanti akan terciptalah kepercayaan atau keyakinan terhadap Allah subhanallahu wata’ala atau bisa disebut dengan aqidah.[6] Jadi fungsi wahyu dan akal dalam memahami akidah itu ialah untuk membuat manusia yakin terhadap penciptanya, seperti yang di sebutkan diatas dengan akalnya manusia dapat memahami wahyu dengan wahyu itu manusia akan mengetahui tentang segala bentuk pengetahuan tentang apa saja yang ingin diketahuinya.
            Di tingkat selanjutnya manusia dengan segala pengetahuannya maka ia akan berpikir siapakah yang menciptakan pengetahuan itu, misalnya saja pengetahuan tentang alam dengan merenunginya maka manusia ingin mengetahui siapakah yang menciptakan alam ini dengan itu akan terbentuklah akidah dari pemikiran itu.








BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
1.      Wahyu berasal dari bahasa arab Al-Wahy, artinya suara, api dan kecepatan, bisikan, isyarat dan tulisan. Juga berarti pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat. Pemberitahuan yang dimaksud datang dari luar diri manusia, yaitu Tuhan. Dengan demikian wahyu diartikan penyampaian sabda Tuhan kepada pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia agar menjadi pegangan  hidup.
2.      Akal dalam pengertian islam adalah daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia; daya, yang memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Pengertian inilah yang di kontraskan dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia.
3.       Aqidah Secara Istilah yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Ikatan atau komitmen dengan allah itu terikat kuat, tangguhdan rapat, tidak longgar dan renggang, sehingga kekuatannya diyakini dan tidak diragukan.
4.       Al-qur’an (wahyu) telah mendorong akal fikiran manusia dengan mengemukakan ayat-ayat tentang alam yang menjelaskan seluruh isi dalam dunia semesta ini , dengan menggunakan pemikiran itu nanti akan terciptalah kepercayaan atau keyakinan terhadap Allah subhanallahu wata’ala atau bisa disebut dengan aqidah.











DAFTAR PUSTAKA

Suryana toto. Dkk. 1997. Pendidikan Agama Islam. Bandung : Tiga Mutiara.

Al-Gazzali. 1986. Akidah Muslim. Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya.

Rahman Ritonga akhmad. 2005. AKIDAH. Surabaya : Amelia.

Sabiq  Sayyid. 2006. Akidah Islam., Bandung : cv.penerbit Diponegoro.

Daudi, Ahmad. 1997. Kuliah Aqidah Islam. Jakarta: Bulan Bintang.




[1] Suryana toto. Dkk, Pendidikan Agama Islam, Tiga Mutiara, Bandung, 1997, hlm.217
[2] Al-Gazzali, Akidah Muslim, Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta, 1986, hlm.248
[3] Suryana toto. Op.cit  hlm.216
[4] Rahman Ritonga akhmad,AKIDAH,Amelia,surabaya,2005,hlm.53
[5]Sabiq  Sayyid,Akidah Islam,cv.penerbit Diponegoro,Bandung,2006,hlm.34-35
[6] Ibid, hlm.36

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar